Arti Malam Bagi Ahli Ilmu

Photo by Andre Benz on Unsplash

Semenjak pandemi melanda negara wakanda tercinta, siklus tidur mulai berubah secara drastis. Sebelumnya sangat bersemangat terjaga sepanjang malam untuk mengerjakan tugas dakwah dan kuliah namun karena adanya Covid-19, memaksakan diri untuk tidak terlalu letih karena khawatir imun tubuh menurun walaupun saya tidak mengerti apakah kurang tidur bisa menurunkan imun. Dua minggu pertama siklus tidur ‘tanpa bergadang’ sukses membuat saya tidak bisa untuk bergadang lagi bahkan lebih parahnya sulit sekali untuk bangun sholat shubuh tepat waktu. Bahkan sampai tulisan ini ditulis, saya selalu terlambat melaksanakan sholat shubuh, bukan karena bergadang lalu kecapean dan akhirnya ketiduran hingga lewat sholat shubuh. Tapi karena tidur awal waktu, hingga mungkin terlalu enak tidur sampai malas untuk bangun. Berarti siklus ‘tanpa bergadang’ dan siklus ‘telat sholat shubuh’ ini sudah terjadi sekitar satu tahun.

Akibatnya banyak tugas-tugas kuliah yang dikerjakan dekat-dekat deadline bahkan tidak sedikit tugas kuliah yang terbengkalai hingga membuat malu jika masuk kelas walau kelas online.

Satu hal yang sangat saya rindukan dan sangat saya perlukan, yaitu lingkungan yang mendukung untuk tetap bergadang untuk menyelesaikan tugas dakwah dan tugas kuliah. Sebelum pandemi, tetangga kosan biasanya memutar lagu malam-malam, walau hal tersebut membuat saya tidak nyaman di kosan, tapi hal tersebut yang membuat saya merasa bahwa ‘masih ada orang yang bangun di jam-jam malam yang seharusnya orang-orang tidur’ menjadikan diri ini tidak merasa asing atau aneh jika masih bangun di saat orang lain sedang tertidur.

Dan juga dikelilingi oleh teman-teman yang senantiasa berdakwah, suasana tersebut membuat saya semakin bersemangat dan lebih tahan lama untuk menempuh perjalanan jauh dakwah Islam ini.

Saat ini saya sedang mencoba untuk mengembalikan siklus ‘bergadang’ dan siklus ‘sholat shubuh tepat waktu’ dengan berusaha tidak tidur pada malam hari bagaimanapun lelahnya badan dan mata.

Ta’liimul muta’allim adalah salah satu kitab yang membahas tentang keistimewaan malam bagi para penuntut ilmu. Perlu sekali saya membaca ulang kitab tersebut untuk mengembalikan semangat dan dimensi ‘kehidupan di atas rata-rata’ yang dipraktikan oleh ulama.

Seorang penyair dalam kitab ini berkata:

Kebahagiaan manusia terletak pada pakaian

Sedangkan menghimpun ilmu dengan meninggalkan kantuk

Bukankah kerugian itu, jika malam-malam

Berlalu tanpa ada manfaat, sedang ia diambilkan dari jatah umurku

berjagalah di malam hari, semoga kau ditunjuki

Sampai kapan kau terlelap sedangkan umur semakin pergi

Penyair ini menggambarkan bagaimana kesungguhan ulama pada saat itu untuk terus belajar bahkan rela untuk mengurangi jatah waktu tidurnya. Memang rasanya jauh sekali membandingkan diri ini dengan ulama pada masa tersebut. Namun apakah tidak cukup kita ini ‘terbakar’ saat mengetahui orang-orang tak beragamapun rela hanya tidur dua jam untuk menggapai cita-citanya di dunia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *