Inconsistent Toleransi di Indonesia

Bismillah…
Kemarin, trending topic di Twitter Indonesia tentang JILBAB. Hal ini dipicu karena ada salah satu sekolah negeri yang mewajibkan siswi non-muslimah agar memakai jilbab seperti siswi muslimah.

Kewajiban tersebut dinilai oleh pemerintah setempat sebagai sebuah bentuk intoleransi kepada agama lain yang sudah mulai terjadi di lingkungan sekolah.
Pertama kali melihat berita ini, saya cuma mau bilang kalau “fix, warga negara kita, setingkat yang punya jabatan pun enggak baca sejarah.”

Saat menamatkan serial komik Muhammad Al-Fatih vs Vlad Dracula, saya menemukan satu halaman yang informatif sekali tentang kondisi berpakaian wanita muslimah dan non-muslimah dengan status kewarganegaraan mereka berada pada wilayah kerajaan utsmani.

Beberapa tahun ke belakang, perkara toleransi dan intoleransi ini selalu menjadi perdebatan yang seru di jagad maya Indonesia hal ini tentu semakin memanas dengan adanya campur tangan pemerintah yang ikut “menyudahi” permasalahan. Namun kondisi jagad maya bukan bertambah tentram, namun malah lebih ramai. Apalagi bagi para pengguna internet yang tidak pernah putus dalam memperhatikan gerak-gerik pemerintah yang membolehkan-tidak membolehkan sesuatu. Sampai-sampai ada salah satu portal berita yang kembali mengingatkan netizen tentang larangan siswi muslimah mengenakan jilbab di salah satu sekolah negeri.

Maka tidaklah heran jika Warga Negara Indonesia, khususnya umat muslim merasa bahwa selama beberapa tahun ke belakang, posisi mereka seakan-akan selalu ditindas oleh pemerintah, dicap yang tidak baik pada mereka yang menginginkan taat pada peraturan Allah, selalu diawasi pergerakannya oleh aparat, ketidakadilan penegakan hukum, dan masih banyak lagi.

Apakah Wanita Non-Muslimah Wajib Mengenakan Jilbab?

Pertanyaan ini pernah saya tanyakan pada sebuah kajian, saya bertanya “Jika negara Islam (khilafah) itu ada lagi, apakah wanita non-muslimah diwajibkan untuk mengenakan jilbab atau pakaian layaknya muslimah? Karena kita tahu akibat dari tidak menutup aurat ini sangatlah merusak tatanan masyarakat. Dan lagi saya pernah lihat di komik Muhammad Al-Fatih ada informasi tentang pakaian wanita non-muslimah saat kerjaan utsmani yang sangat menutup aurat.”

Lalu salah satu ustadz menjawab kira-kira seperti ini “Iya memang diharuskan. Tapi memang ada catatan, para pejabat di negara Islam (khilafah) itu tidak boleh dengan sewenang-wenang memaksakan. Regulasi dari negara harus ada, tetapi dari pejabat pun haruslah ada dakwah atau edukasi tentang bahaya wanita yang tidak menutup aurat. Memang hal ini akan cukup memakan banyak waktu, energi, dan materi. Tapi karena ini sudah menjadi kewajiban pejabat dalam menjaga kehormatan orang-orang non-muslimah yang berada di bawah pemerintahannya.”

Jika ada pertanyaan seputar artikel ini, silakan ditanyakan di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *