Lelaki itu…

Tulisan ini hanya copas dari gambar dan caption yang saya dapat dari akun Ustadz @har030324 sebagai pengingat bagi semua lelaki, termasuk saya. 🙂

Dari gambar:

Lelaki…

Di tanganmu semua harus rapi. Soal nafkah, kamu lah yg harus penuhi. Pekerjaan rumah tangga? Itu bukan tugas istri.

Jika rumahmu berantakan, kamulah orang pertama yang layak disalahkan.

Kamu tidak boleh capek. Bekerjalah maksimal hingga keluar urat di leher. Tapi tetaplah tersenyum sampai di rumah karena orang rumah tidak mau melihat kamu lelah.

Teruslah menjadi lelaki yang siap menanggung beban anak istri. Selamanya, hingga Allah memanggilmu pulang dan tidak di dunia ini lagi.

Dari caption:

#KEHIDUPAN SUAMI ISTERI KEHIDUPAN DUA SAHABAT

Meski Islam menjadikan pria sebagai “Qawam” bagi isterinya, tidak berarti suami identik dengan raja, dan isterinya menjadi rakyat. Suami menjadi majikan, dan isterinya menjadi pembantu, bahkan budak. Tidak. Bukan begitu makna “Qawam”

“Qawam” itu adalah sandaran. Suami adalah sandaran hati isteri. Maka, suami harus siap menampung keluh kesahnya. Jadilah pendengar yang baik bagi isterimu

“Qawam” itu artinya, suami membimbing dan menuntun isterinya. Memenuhi apa yang menjadi nafkahnya. Makanan, pakaian dan tempat tinggalnya. Dengan bekerja di luar rumah mencari nafkah

Isteri adalah ibu dan pengurus rumah. Meski capek bekerja, ketika melihat isteri membutuhkan bantuan, tanpa diminta, suami akan membantunya. Begitu juga sebaliknya

Hal-hal kecil, seperti mencuci piring, bejana, menjahit baju, mencuci pakaian kotor juga dilakukan Nabi. Begitu juga membuat minuman, Nabi membuat sendiri. Kalau di rumah tak ada makanan, dengan segera Nabi berpuasa. Kalau ada makanan, dan masakannya kurang pas pun, Nabi tidak mengeluh apalagi mencaci

Itulah cara Nabi menjaga perasaan isteri. Cara Nabi menjadi sahabat bagi isterinya, dan cara Nabi menjadi “Qawam”

Nabi di rumah juga bergurau dengan isterinya. Membuat isterinya tersenyum dan tertawa. Kadang Nabi merayu dan menggoda mereka. Meski tak berarti di rumah mulianya tak pernah ada masalah

Suatu ketika Aisyah ada masalah dengan Nabi, Nabi ajukan beberapa nama menjadi penegah, Aisyah menolak, hingga disetujuilah Abu Bakar, ayahnya sebagai penegah. Saat tahu masalahnya, Abu Bakar marah, putri dipukul hingga hidungnya berdarah. Saat itu, Nabi dengan penuh kasih sayang mengusap hidung Aisyah yang berdarah, membersihkannya dengan air dan kain. Usapan yang penuh kasih sayang dan cinta

Nabi menjadi suami terbaik bagi isterinya, baik saat monogami 25 tahun dengan Khadijah, maupun poligami 10 tahun dengan 9 isterinya

Kata Nabi, “Lelaki terbaik, adalah lelaki yang paling baik kepada isterinya. Dan akulah lelaki yang paling baik kepada isteriku.” Maka, wasiat khutbah wada’ pun ditujukan kepada lelaki agar berbuat baik kepada isterinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *