Modelling Ibn Abu Quhafah (Part I)

Abdullah Ibn Abu Quhafah aka. Abu Bakar Ash-Shiddiq Khalifatur Rasulullah.

Pemuda Penjaga Kehormatan

Ibn Abu Quhafah adalah seorang pemuda yang sangat menjaga kehormatannya dari perbuatan-perbuatan tercela yang sering dilakukan oleh penduduk Makkah sebelum Islam. Perbuatan-pebuatan tercela yang biasa mereka perbuatan adalah meminum khamr, berjudi, mengundi nasib, bergaul dengan perempuan, dan hal tidak terpuji lainnya. Suatu ketika saat Ibn Abu Quhafah diajak oleh kawan-kawannya untuk pesta khamr, Ibn Abu Quhafah menolaknya dengan alasan menjaga kehormatan dirinya.

Tafsir Mimpi Ibn Abu Quhafah

Ketika Ibn Abu Quhafah berdagang di Syam, suatu malam ia bermimpi bahwa matahari dan rembulan mendekat lalu hinggap di pangkuannya. Ibn Abu Quhafah lantas menyentuhnya lalu mendekapnya erat-erat di dadanya. Penasaran dengan tafsir tersebut, lalu Ibn Abu Quhafah pergi ke salah satu pendeta di Syam, pembicaraan hanya berdua secara rahasia.

Ibn Abu Quhafah menceritakan mimpi tersebut pada pendeta tersebut untuk mendapatkan tafsir mimpinya. Pendeta itu bertanya “Kau berasal dari mana dan apa nama sukumu?”

“Aku berasal dari Kota Makkah dan nama sukuku adalah Taim.”

“Untuk kepentingan apa kau ada di Syam?”

“Aku di negeri ini untuk urusan bisnis.”

Pendeta itu menjelaskan, “Ketahuilah bahwa telah datang pada zamanmu ini seorang lelaki dari keluarga bani Hasyim bernama Muhammad yang digelari Al-Amin (sang Terpercaya). Dia akan ditahbiskan menjadi nabi dan rasul akhir zaman. Jika bukan karena Muhammad, Allah tidak akan menciptakan langit dan Bumi beserta isinya. Jika bukan karena Muhammad, Allah Yang Maha Esa tidak akan menciptakan Adam, para nabi, serta para rasul. Muhammad adalah sayyid (penghulu) para nabi dan rasul Allah. Dia adalah penutup para nabi Allah dan penghulu para rasul-Nya.”

Ketika Ibn Abu Quhafah kembali ke Makkah, para petinggi Quraisy memberitahukan bahwa ada orang bernama Muhammad yang mengaku sebagai Nabi.

Ketika bersua dengan Rasulullah saw., Ibn Abu Quhafah berujar “Wahai Putra Abdullah, mengapa engkau meninggalkan keyakinan yang sudah mentradisi dan dianut masyarakat kita sejak lama?”

“Wahai Putra Abu Quhafah, sesungguhnya aku ditahbiskan menjadi nabi Allah dan aku adalah rasul-Nya yang diutus kepadamu dan kepada seluruh manusia. Jadi, berimanlah kepada Allah Azza wa Jalla.”

“Bisakah kau tunjukkan bukti bahwa dirimu adalah nabi dan utusan Allah?”

“Bukankah kau telah menemukan buktinya?”

“Bukti apa?”

“Penjelasan pendeta yang kau tanyai perihal tafsir mimpimu di negeri Syam. Bukankah dia telah menitipkan sesuatu kepadamu untuk kausampaikan kepadaku?”

Ibn Abu Quhafah kaget dengan perkataan Rasulullah saw. padahal saat percakapan Ibn Abu Quhafah dan Pendeta sangat rahasia.

Karena itulah Ibn Abu Quhafah berujar pada Rasulullah saw. “Jadilah saksi atas keislamanku. Sesungguhnya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Gelar Ash-Shiddiq (Sang Pembenar)

Pada malam 27 Rajab tahun kesepuluh kenabian, Allah mendelegasikan Malaikat Jibril untuk menjemput Rasulullah guna menghadap Allah Azza wa Jalla. Jibril membangunkan Rasulullah saw. dan membimbingnya ke luar Masjidilharam dan dipersilakan untuk menaiki kendaraan yang disebut Buraq. Dengan didampingi Malaikat Jibril, perjalanan agung pada malam hari (Isra’) itu pun dimulai.

Saat keesokan harinya, Rasulullah saw. mewartakan bahwa dirinya sudah melakukan Isra’ dan Mi’raj dalam satu malam, lalu mendapat perintah untuk shalat. Beberapa muslimin ada yang meragukan tentang perjalanan Isra’ Mi’raj beliau saw. hanya dalam satu malam. Tapi berbeda dengan Ibn Abu Quhafah yang 100% meyakini tentang Isra’ dan Mi’raj-nya Rasulullah saw. dari keyakinan inilah akhirnya Ibn Abu Quhafah mendapat gelar Ash-Shiddiq yang dalam bahasa Indonesia berarti Sang Pembenar.

Sepeninggal Rasulullah saw.

Ayat terakhir yang diwahyukan pada Rasulullah saw. yaitu Al-Maidah ayat 5 membuat banyak sahabat berbahagia, namun tidak dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis karena memiliki dan pemaknaan lebih dibanding sahabat lain. Abu Bakar Ash-Shiddiq peka dan memahami terhadap wahyu terakhir ini yang berarti berakhir pula tugas Rasulullah saw. di dunia.

Sepeninggal Rasulullah saw. terjadi pemberontakan, murtad, munculnya nabi palsu, enggan membayar zakat, dan lemahnya iman beberapa orang.

Wasiat Rasullah saw. Untuk Memberangkatkan Pasukan Usamah bin Zaid

Bagian ini, kita lanjut di Part II. InsyaAllah. 🙂

Referensi : Majidy, M. (2013). Abu Bakar The 1st Khalifah. Bandung : Sygma Creative Media Corp.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *