Pengen Jujur di Tengah Tipuan

“Semuanya netral, respon kitalah yang menjadikannya negatif atau positif.”
-Fikry Fatullah

Mungkin saat tulisan ini dibuat, sangat sulit sekali kita melakukan suatu hal secara jujur dan pure.

Manipulasi data untuk mendapat proyek sesuai keinginan penyumbang dana, menyembunyikan sebagian hasil penjualan supaya ada uang yang bisa dilipat, menyuruh anak untuk bilang ‘tidak ada siapa-siapa di rumah’ pada seorang penagih hutang yang datang ke rumah, berkata berlebihan untuk mendapat perhatian dari atasan, dan bermacam tipuan lain yang sampai saat ini selalu mengusik hati Saya dan Anda (padahal tipuannya telah dilakukan bertahun-tahun lamanya).

Kenapa Harus Menipu?

Ya, mungkin Saya dan Anda sudah sangat sering menipu seseorang – untuk kepentingan apapun itu – karena kita ingin menghindari masalah yang sedang menghampiri kita. Padahal saat kita menghindari masalah yang satu, maka akan ada masalah beruntun yang menghampiri. Mungkin masalahnya bertambah banyak atau bertambah besar. Bagaimana pun masalah itu, saat kita sikapi dengan cara menipu, maka tipuan-tipuan yang lebih besar dan banyak perlu kita buat. Dan itu sangat melelahkan.

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.
[at-Taubah/9:119]

Kenapa Harus Jujur?

Sudah bosan kita mendengar kalimat “berkatalah secara jujur walau itu pahit” namun kita sangat jarang mengungkapkan apapun secara jujur. Kita tidak mengetahui masa depan. Lalu kenapa takut mengorbankan hari ini dengan berkata secara jujur apa adanya? Mungkin dengan berkata jujur peluang-peluang ke depan lebih terbuka lebar. Daripada menyesakkan dada dengan cara menipu lagi dan lagi dan seterusnya hingga mulut tidak bisa bicara lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *